MUSIC TREATMENT
About the Music
Musik treatment mempunyai pengertian suatu jenis terapi alternatif dengan menggunakan musik, baik memainkan, menyanyikan, menari maupun mendengarkannya. Treatment musik digunakan dengan tujuan perbaikan (restore), pemeliharaan (maintain), peningkatan emosional, fisik, fisiologis, dan kesehatan lahir – bathin (well – being). Dalam penerapan tujuan (area goal), musik termasuk dalam hal komunikatif, akademis, motoris, emosional, dan sosialisasi.
Terapan ilmu Fisiologi dan Musik.
Telinga mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk menerima sejumlah informasi dalam watu bersamaan. Seseorang dapat mendengarkan permainan sebuiah symphony dengan beberapa alat musik yang dimainkan secara bersamaan. Ia dapat mendengar instrument apa yang dimainkan dan siapa yang memaikan saat itu. Gelombang suara dari luar di transformasikan atau diubah menjadi sebuah pesan yang dapat dimengerti otak dan akan menimbulkan reaksi terhadap pesan tersebut, karena keseluruhan anatomi telinga dibentuk untuk menangkap dan menghantarkan gelombang. Getaran – getaran ini disalurkan melalui telinga secara konduksi termasuk juga keikutsertaan kulit dan tulang sekitar telinga dan diproses dalam batang otak, thalamus dan otak besar (cortex cerebri). Setelah terjadi proses pada kortex maka impuls pada syaraf akan melanjutkan pesan sehingga menimbulkan reaksi pada sistem otomatis syaraf yang akan mempengaruhi perubahan fungsi tubuh lain, seperti tekanan darah, irama nafas, tonus otot, irama jantung, dan lain – lain. Sedangkan manifestasi fisik terhadap musik yang dikenal sebagai refleks thalamic, seperti tepuk tangan, hentakan telapak kaki dilantai, goyangan tubuh, anggukan kepala atau gerakkan ritmik lengan dan tangan selama proses terjadi. Alfred Thomatis, seorang dokter phsycologist dan pakar pendidikan Perancis, meneliti tentang hubungan gelombang frekuensi musik dengan kondisi fisik manusia.
- Suara frekuensi tinggi (3000-8000Hz atau lebih) secara umum bergetar dalam otak dan merangsang fungsi kognitif, seperti berfikir, persepsi spatial, dan memori.
- Suara frekuensi menengah (750-3000Hz) menstimulasi jantung, paru-paru, serta emosi.
- Suara frekuensi rendah (125-750Hz) merangsang gerakkan fisik.
- Suara bergumam dengan nada rendah dapat membuat grogi.
- Nada rendah dengan irama cepat, membuat sulit berkonsentrasi.
Pengaruh Musik pada Janin
Berdasarkan penelitian suara ibu dan musik klasik dapat merangsang otak pada janin dan bayi yang baru lahir sehingga menimbulkan gerakkan mototik tertentu. Ya, tentunya interaksi antara si Ibu dan janin dapat memberikan reaksi positif bagi perkembangan otak. Apalagi jika Ibu mendengarkan musik klasik, misalkan Mozart, Bethoven, atau Sebastian Bach. Dasar – dasar irama yang menyerupai ritme denyut nadi manusia, menjadi salah satu alasan mengapa banyak ahli menyarankan agar janin mendengarkan musik klasik. Namun bukan hanya musik klasik yang dapat digunakan, semua musik berirama tenang dengan alunan lembut pun dapat bermanfaat bagi janin, bayi, dan anak – anak. Sementara itu, penelitian membuktikan bahwa seorang Ibu hamil yang bekerja di tempat bising cenderung memiliki anak yang hiperaktif, begitu juga Ibu yang terbiasa bicara keras atau kasar dapat mempengaruhi perkembangan janin nantinya. Tak heran jika ketika sedang mengandung, Ibu menjaga perilaku dan tutur ucapnya. Bahkan tak jarang ketika lingkungannya ada yang membawa perilaku negatif, secara reflek seorang Ibu langsung mengusap perutnya sambil berkata untuk menenangkan sang janin.

